Perajin Bilik Bambu asal Plered Purwakarta Masih Eksis di Tengah Perkembangan Zaman

- Selasa, 29 Juni 2021 | 14:38 WIB
Pak Cunik sedang merapihkan bilik bambu yang sudah selesai dianyam.
Pak Cunik sedang merapihkan bilik bambu yang sudah selesai dianyam.

PLERED, AYOPURWAKARTA.COM -- Rumah-rumah menggunakan bilik bambu sudah langka ditemukan di pedesaan apalagi di perkotaan. Sebagian besar masyarakat beralih menggunakan material bangunan seperti bata merah, hebel, dan GRC untuk mendirikan rumah mereka.

Akan tetapi, di tengah perkembangan modernisasi, Pak Cunik masih tetap eksis membuat bilik bambu di rumahnya berlokasi di Kampung Rawagede Kaler, Desa Rawasari, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta. "Setiap hari saya membuat bilik bambu kemudian dijual," kata dia, Selasa 29 Juni 2021.

Ia mengaku masih ada masyarakat yang berminat karena memberikan keunikan tersendiri pada bangunan yang menggunakannya. Atas dasar itu, dia tetap eksis di samping mempertahankan kerajinan tangan yang telah dia geluti sejak lama tersebut." Ada saja pembeli datang ke sini membeli bilik bambu," ujar kakek akrab disapa Pak Acun tersebut.

Adapun teknik membuatannya sendiri diawali dengan membelah bambu diperkirakan ukuran sekitar 5 sentimeter terlebih dahulu. Setelah itu, belahan-belahan bambu diproses menjadi anyaman. Caranya, belahan bambu tersebut diserut dengan pisau tajam hingga mendapatkan bilah-bilah tipis. Proses berikutnya potongan tipis itu dianyam menjadi bilik bambu.

Dalam dua hari, ia mengaku mampu menyelesaikan bilik bambu sekitar tiga lembar berukuran 2 X 2,5 meter. "Tapi tergantung ukuran dan tingkat kesulitannya juga. Paling sulit itu membuat bilik yang semuanya kulitnya (hinis) karena dalam satu bambu paling menjadi 4 sampai 5, berbeda dengan daging (daleman) bambu bisa lebih banyak," kata pak Acun.

Adapun harga bilik bambu, Pak Acun mematok dengan harga beragam mulai harga Rp20.000 per meter untuk bilik bambu campuran, Rp80.000 bilik yang semuanya kulit atau hinis. "Tidak menunggu yang pesan, saya membuat aja dulu karena ada saja yang mencari bilik bambu datang ke sini," kata dia.

Selain itu, ia bercerita dahulu sebagian besar masyarakat di kampung ini membuat anyaman bilik bambu hingga kampung ini di sebut blok bilik. Namun, seiring perkembangan zaman, ditambah para perajin sudah tidak ada (meninggal dunia) tidak ada generasi penerus. Masyarakat sebagian besar memilik kerja di perusahaan dibanding menganyam bilik bambu. "Paling juga sekarang ada empat orang lagi yang masih membuat bilik bambu ini," ujar dia.

Editor: Dudung Ridwan

Tags

Terkini

Bumdes Subang Katalisator Pembayaran Pajak

Jumat, 13 Agustus 2021 | 14:14 WIB

Curhat PKL di Purwakarta Setelah PPKM Diperpanjang

Rabu, 4 Agustus 2021 | 17:59 WIB

Pilkades 2021 Ditunda, Ini Kata Bupati Purwakarta

Selasa, 3 Agustus 2021 | 20:31 WIB
X