Sentra Pembuatan Sapu Ijuk di Purwakarta: Sepi Pembeli, tapi Tetap Eksis

- Rabu, 4 Agustus 2021 | 11:43 WIB
Perajin  sapu ijuk di Desa Sindangpanon, Kecamatan Bojong Purwakarta tengah menganyam ijuk dijadikan sapu. (Dede Nurhasanudin)
Perajin sapu ijuk di Desa Sindangpanon, Kecamatan Bojong Purwakarta tengah menganyam ijuk dijadikan sapu. (Dede Nurhasanudin)

BOJONG, AYOPURWAKARTA.COM -- Sapu merupakan salah satu alat untuk membersihkan rumah dari debu, membersihkan sisa-sisa makanan, atau membersihkan sampah yang berserakan. Sapu ada yang berbahan plastik, tetapi ada juga yang terbuat dari ijuk--disebut sapu ijuk--yang diperoleh dari pohon kolang kaling.

Di Kabupaten Purwakarta masih terdapat para perajin sapu ijuk yang tetap eksis di tengah perkembangan zaman yang serba modern, yakni di Kampung Sukaresmi, Desa Sindangpanon, Kecamatan Bojong. Kampung ini digadang-gadang sebagai salah satu sentra kerajinan sapu ijuk di wilayah Purwakarta yang terkenal dengan destinasi wisata Taman Air Mancur Sri Baduga tersebut.

Salah satu perajin sapu ijuk, Agus Maulana (42) mengaku menggeluti kerajinan tangan ini sejak tahun 2000 memanfaatkan melimpahnya bahan dasar meski diperoleh dengan cara dibeli dari petani sekitar Rp5.000 per lembar. "Dalam satu hari, paling banyak membuat 60 sapu ijuk, tapi tidak menentu juga tergantung pesanan," ujar Agus, pada Rabu 4 Agustus 2021.

Hasil kerajinan sapu ijuk buah tangan Agus sebagian besar dikirim ke pasar-pasar di Purwakarta maupun ke luar kota seperti Subang, Bandung, dan Karawang. "Soal kualitas sapu ijuk saya ini bisa bersaing dengan sapu ijuk yang berasal dari daerah lain," kata pria yang akrab disapa Kang Ireng itu.

Adapun teknis pengolaha sapu ijuk diawali ijuk yang telah diperoleh disortir, kemudian dipotong sesuai kebutuhan lalu masuk ke teknis penyisiran untuk merapikan ijuk itu sendiri menggunakan besi runcing.

Setelah itu, ijuk ditumpuk beberapa lembar kemudian digulungkan ke batang sapu yang terbuat dari bambu atau rotan, lalu diikat. Kemudian di bagian atas ijuk dianyam untuk memperkuat kerapatan terhadap batang sapu.

Kang Ireng mengatakan, sapu ijuk yang produksi memiliki dua dua pilihan. Yakni sapu ijuk batang rotan seharga Rp15.000 hingga Rp20.000. Sapu ijuk menggunakan batang bambu Rp7.000 sampai Rp10.000 untuk harga eceran. "Perbedaan dari dua produk itu hanya dari teknis penganyaman. Memproduski sapu ijuk ini tidak semua orang bisa, harus memiliki ketelatetan dan keahlian khusus," kata dia.

Selain itu, dia menyebut hampir lima bulan ini buah tangannya itu sepi pembeli, tetapi harus tetap berjuang agar usahanya tetap berjalan di tengah pandemi Covid-19. "Ada pandemi ini terhambat juga, agak sulit menjualnya. Ini juga baru mulai lagi produksi setelah lima bulan berhenti akibat pandemi," ujar Kang Ireng.

Editor: Dudung Ridwan

Tags

Terkini

Bumdes Subang Katalisator Pembayaran Pajak

Jumat, 13 Agustus 2021 | 14:14 WIB

Curhat PKL di Purwakarta Setelah PPKM Diperpanjang

Rabu, 4 Agustus 2021 | 17:59 WIB

Pilkades 2021 Ditunda, Ini Kata Bupati Purwakarta

Selasa, 3 Agustus 2021 | 20:31 WIB
X