Cerpen: MITEMBEYAN* TERAKHIR

- Sabtu, 31 Juli 2021 | 10:18 WIB
Ilustrasi cerpen Mitembeyan Terakhir.
Ilustrasi cerpen Mitembeyan Terakhir.

DIA sendirian tiduran di dangau mungil. Tubuhnya berbalut baju petani hitam-hitam, meringkuk menghadap sawahnya yang telah berisi padi menguning, tidak lama lagi akan dipanen. Sawahnya dikelilingi bangunan-bangunan sebagai batas, juga dengan tanah-tanah kosong milik orang lain yang telah terkavling-kavling.

Suara burung-burung pipit membangunkannya. Dia lalu menggoyang-goyangkan tali rafia yang telah dililiti potongan-potongan kain. Burung-burung yang penakut segera terbang pergi. Tetapi burung-burung yang pemberani tetap bertahan mematuki padi—mungkin beberapanya induk, mematahkan tangkai-tangkai padi, untuk anak-anaknya yang butuh asupan agar tumbuh baik.

Melihat burung-burung yang tidak juga terbang, emosi Atang menjadi terkuar, segera keluar dari dangau, memungut beberapa kerikil yang ada di sekitar. Dengan penuh napsu, satu per satu kerikil dilemparkan ke arah burung-burung pemberani itu. Semua burung pun berhamburan, tak tersisa. Atang kembali ke dangau.

Tetapi begitu duduk, mendadak teringat pada nasib satu petak sawah tersisa di hadapannya. Petak-petak sawah lain telah terjual pada jangka waktu yang berbeda. Antara lain dipakai untuk kebutuhan ketika mendesak, untuk menyekolahkan keempat anaknya—dua laki-laki dua perempuan—dan juga untuk biaya pernikahan anak-anak.

Atang benar-benar risau. Satu orang kota telah berkali-kali datang padanya menawar sawahnya. Yang tadi malam menawarlah yang membuat tidak nyaman. Bukan karena ketidaksepakatan pada satu harga, tetapi karena yang menawar itu tidak sopan dalam penilaian pribadi Atang. Tidak sopan saat berbicara, juga dalam bergerak-gerik. Congkak! Atang ngedumel.

Wajah Atang tiba-tiba menjadi berseri karena melihat dari kejauhan Icih istrinya sedang berjalan, yang seperti biasa membawakan rantang dan air minum. Sekelebatan, tergambar waktu puluhan tahun yang lalu, saat di selingkungan ini hanya sawah yang menghampar, lalu teringat pula saat berdua masih pengantin muda: saat pernah terpeleset bersamaan di satu pematang yang licin hingga jatuh terjerembab ke pinggir sawah. Atang tersenyum sendiri membayangkan ketika itu, masing-masing wajah dan tubuh belepotan lumpur.

Atang menyambut ketibaan Icih. “Kau memang benar-benar istri ideal. Aku tidak menyesal menikahimu. Selain cantik, kau juga selalu tepat waktu. Terima kasih sayang.”

Mata Icih berbinar, tersenyum mendapat pujian dari suaminya. “Kau menggombal. Lupa ya, kita kan sudah berumur.”

“Apakah salah, kalau aku memujimu?”

Halaman:

Editor: Dudung Ridwan

Tags

Terkini

Kenali Penyebab Batuk dan Cara Penyembuhan di Rumah

Selasa, 14 September 2021 | 19:48 WIB

Migran saat Bangun Tidur, Ternyata Ini 5 Penyebabnya

Rabu, 8 September 2021 | 18:08 WIB

Satuan Pelayanan Jadi Perhatian Komisi II DPRD Jabar

Senin, 30 Agustus 2021 | 22:41 WIB
X